Islam, Sosialisasi, dan Kebudayaan di Indonesia

Cover ISBD Vita copy

KATA PENGANTAR

(Ali-Imran : 110)  كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”

Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarkatuh

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang. Segala puji hanya bagi Allah yang menguasai gerak hidup dan kehidupan. Dzat yang menyusun semua alam ini dengan sangat baik. Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah. Shalawat serta salam kepada Nabi Muhammad SAW bin Abdullah, beserta para keluarga, sahabat serta para pengikutnya yang insyaAllah istiqomah hingga akhir zaman. Amin.

Berikut ini adalah makalah tentang kedudukan Islam dalam sosialisasi dan kebudayaan yang ada di Indonesia. Semoga para pembaca senang membacanya dan dapat mengambil manfaat darinya. Saya menyusun makalah ini untuk siapa saja yang ingin mengetahui kedudukan Islam itu sendiri dalam tatanan bermasyarakat. Dengan mengambil beberapa contoh yang ada di Indonesia dan beberapa sejarah yang melandasinya, saya berharap makalah ini dapat menambah pengetahuan kita mengenai beberapa hubungan agama Islam dengan Ilmu Sosial dan Budaya itu sendiri. Saya menyadari, dalam proses penulisan, penyusunan, dan tata bahasa mungkin masih jauh dari kesempurnaan. Dengan itulah, saya meminta maaf kepada segenap civitas akademika, baik dosen maupun mahasiswa yang membaca, agar kiranya dapat memaklumi dan dapat memberikan masukan untuk kedepannya.

Ucapan terimakasih tak lupa saya ucapkan kepada ibu Yulinar Djahir, yang mana telah membimbing saya dalam mengkaji masalah-maslah ilmu sosial dan budaya. Terimakasih juga kepada rekan-rekan sesama mahasiswa yang telah ikut andil dalam penulisan ini, baik masukan dan kritiknya. Demikianlah sekapur sirih yang dapat saya sampaikan, mohon maaf bila ada kesalahan dalam penyusunan makalah ini, karena kesalahan hanya dari saya sebagai manusia yang banyak kekurangan, dan kebenaran hanyalah milik Allah SWT yang maha sempurna

Akhir seruan adalah, “Al-hamdu Lillahi Rabbil ‘Alamiin” (segala puji bagi Allah, Tuhan semesta Alam) []

Wassalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Inderalaya, 08 Januari 2013

 

 

Yuli Ravita

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR         ……………………………………………………………………      1

DAFTAR ISI                         ……………………………………………………………………      2

 

BAB  I                        PENDAHULUAN

Latar Belakang         …………………………………………………………………..       3

Tujuan Penulisan      …………………………………………………………………..       4

Rumusan Masalah    …………………………………………………………………..       4

 

BAB II            TINJAUAN PUSTAKA

Manusia Sebagai Makhluk Sosial    ……………………………………………..       5

Manusia Sebagai Makhluk Budaya  ……………………………………………       5

Manusia Sebagai Makhluk Beragama  ………………………………………..       5

Ilmu Sosial dan Budaya Dasar        ……………………………………………..       5

Agama dan Ilmu Sosial         ………………………………………………………..       5

Agama dan Kebudayaan     ………………………………………………………..       6

 

BAB III          PEMBAHASAN

Agama, Ideologi dan Budaya           ……………………………………………..       7

Akulturasi Islam dan Budaya di Indonesia            ………………………..       8

Pengaruh Timbal Balik antara Agama dan Budaya         ……………..       9

Pandangan Ajaran Islam tentang Ilmu Sosial        ………………………..       10

Ilmu Sosial yang Bernuansa Islam  ……………………………………………..       10

Peranan Ilmu Sosial dan Profetik pada Era Glabalisasi   ……………..       11

 

BAB IV          PENUTUP

Kesimpulan    ……………………………………………………………………………..       13

Saran  ………………………………………………………………………………………..       13

 

DAFTAR PUSTAKA          …………………………………………………………………..       14

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1       Latar Belakang

Ilmu Sosial dan Budaya Dasar (SIBD) sebagai mata kuliah dasar umum (MKDU), diberikan kepada mahasiswa di seluruh perguruan tinggi negeri dan swasta, bertujuan untuk mengembangkan daya tangkap, persepsi, penalaran, dan apresiasi mahasiswa terhadap lingkungan budaya.

Ada dua hal yang menyebabkan pentingnya pembahasan materi itu yaitu, pertama, tema-tema ISBD merupakan tema-tema inti permasalahan dasar manusia yang dialami dan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari, seperti tema-tema yang telah disusun. Kedua, pada saat ini, terdapat kecenderungan bahwa ilmu atau ilmuwan sering mengabaikan sikap dan perilaku moral. Banyak di antara ilmuwan yang menganggap bahwa aspek moral itu tidak penting. Menurutnya, aspek yang lebih penting daripada moral dalam suatu ilmu adalah ontologis dan epistemologis.

Apabila hal itu yang terjadi, maka ia akan mengabaikan unsur manusiawinya, kurang berbudaya, dan tidak peka terhadap perma­salahan moral. Untuk mengantisipasi hal itu, setiap sarjana dirasa perlu memahami aspek budaya.

Disamping itu juga, dunia saat ini tengah memasuki era globalisasi dengan dampak negatif dan positifnya. Di antara dampak negatif tersebut misalnya terjadi dislokasi, dehumanisasi, sekularisasi, dan sebagainya. Sedangkan dampak positifnya antara lain terbukanya berbakai kemudahan dan kenyamanan, baik dalam lingkungan ekonomi, (ekonosfer) informasi (infosfer) maupun psikologi (psikosfer).

Ilmu pengetahuan sosial yang ada sekarang ini dinilai sudah mulai kewalahan dalam ikut serta memberikan kerangka pemecahan masalah yang timbul pada era globalisasi ini. Disebabkan karena prinsip-prinsip yang dijadikan landasan dalam ilmu pengetahuan sosial tersebut berasal dari filsafat barat yang bertumpu pada logika rasional dan cara berfikir empirik. Salah satu upaya mengatasi kebuntuan dari ilmu pengetahuan yang demikian itu, agama diharapkan dapat memberikan arahan dan perspektif baru, sehingga agama tersebut terasa bermanfaat bagi para penganutnya.

Dan salah satu tema yang saya angkat dalam pembuatan makalah ini, adalah “Kedudukan Islam dalam Sosialisasi dan Budaya di Indonesia”. Karena saya merasa, sebagai warga negara Indonesia yang beragama Islam, saya harus mengetahui kedudukan Islam itu sendiri di Indonesia dalam tatanan bersosial dan berbudaya.

1.2. Tujuan Penulisan

  1. Dapat memahami hubungan antara sosial dan budaya dalam Islam
  2. Diharapkan dapat memaksimalkan peran mahasiswa dalam kehidupan sosial, budaya, dan Agamanya sendiri, terkhusus Islam agar nantinya dapat menjadi bekal untuk menjalani kehidupan diluar lingkungan kampus
  3. Agar menjadi bacaan yang berguna dan dapat menambah pengetahuan bagi pembaca
  4. Melengkapi tugas akhir mata kuliah umum Ilmu Sosial dan Budaya Dasar

1.3. Rumusan Masalah

1.  Adakah keterkaitan antara ilmu Sosial dan Budaya dengan Islam ?

2. Mengapa kita perlu mempelajari keterkaitan kita dengan masalah-masalah Islam di sekitar kita yang masih menyangkut dengan sosial dan budaya  ?

3. Bagaimanakah cara kita menghadapi arus globalisasi yang berdampak pada kegiatan sosial, budaya, dan agama Islam di Indonesia ?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

          2.1 Manusia Sebagai Makhluk Sosial

Manusia sebagai makhluk sosial ( zoon politicon ) artinya, manusia sebagai individu tidak akan mampu hidup sendiri dan berkembang sempurna tanpa hidup bersama dengan individu manusia lainnya. Manusia harus hidup bermasyarakat saling berhubungan dan berinteraksi satu sama lain dalam kelompoknya dan juga dengan individu di luar kelompoknya guna memperjuangkan dan memenuhi kepentingannya.

2.2 Manusia Sebagai Makhluk Budaya

Manusia sebagai makhluk berbudaya ( homo humanus ) artinya , manusia itu makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa yang paling sempurna, karena sejak lahir sudah di bekali dengan unsure akal (ratio), rasa (sense) yang membedakannya dengan makhluk lainnya. Sebagai makhluk berbudaya, manusia hanya mampu mengembangkan diri dan budayanya apabila berhubungan dengan manusia lain.

2.3 Manusia Sebagai Makhluk Beragama

   Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut “agama” (religious). Terdapat banyak tema agama termasuk dalam superstruktur : agama terdiri atas tipe-tipe simbol, citra, kepercayaan, dan nilai-nilai spesifik dengan mana makhluk manusia menginterpretasikan eksistensi mereka. Akan tetapi, karena agama juga mengandung komponen ritual, maka sebagian agama tergolong juga dalam struktur sosial.

2.4 Ilmu Sosial dan Budaya Dasar

Ilmu Sosila dan Budaya Dasar adalah pengetahuan yang diharapkan dapat memberikan pengetahuan dasar dan pengertian umum tentang konsep-konsep yang dikembangkan untuk mengkaji masalah-masalah manusia dan kebudayaan. Salah satunya untuk memecahkan masalah sosial yang ada di masyarakat. Adanya pendekatan yang integratif serta multidisiplin ilmu sangat diperlukan dalam memecahkan masalah sosial dan budaya yang ada dikarenakan seringkali permasalahan tersebut tidaklah sederhana sehingga memerlukan kajian dari berbagai disiplin ilmu yang berkaitan.

2.5  Agama dan Ilmu Sosial

Jika diadakan perbandingan antara perhatian islam terhadap urusan ibadah dengan urusan muamalah, ternyata islam menekankan urusan muamalah lebih besar daripada urusan ibadah dalam arti yang khusus . keterkaitan agama dengan masalah kemanusiaan menjadi penting jika dikaitkan dengan situasi kemanusiaan di zaman modern ini. Dewasa ini manusia menghadapi berbagai macam persoalan yang membutuhkan pemecahan segera. Manusia merasa bahwa situasi yang penuh dengan problematika di dunia modern justru disebabkan oleh perkembangan pemikiran manusia sendiri.

Manusia telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik, serta membangun peradaban yang maju untuk dirinya sendiri, tetapi pada saat yang sama, kita juga melihat bahwa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri. Dalam keadaan demikian, kita harus memiliki ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari problema tersebut. Ilmu pengetahuan sosial yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan yang digali dari nilai-nilai agama. Kuntowijoyo menyebutkan sebagai ilmu sosial profetik.

2.6  Agama dan Kebudayaan

Dalam kehidupan manusia, agama dan budaya jelas tidak berdiri sendiri, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dalam dialektikanya; selaras dalam menciptakan ataupun kemudian saling menegasikan. Agama sebagai pedoman hidup manusia yang diciptakan oleh Tuhan, dalam menjalani kehidupannya. Sedangkan kebudayaan sebagai kebiasaan tata cara hidup manusia yang diciptakan oleh manusia itu sendiri dari hasil daya cipta, rasa dan karsanya yang diberikan oleh Tuhan. Agama dan kebudayaan saling mempengaruhi satu sama lain. Agama mempengaruhi kebudayaan, kelompok / masyarakat / suku / bangsa. Kebudayaan cenderung mengubah-ubah keaslian agama sehingga menghasilkan penafsiran berlainan.

 

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1  Agama , ideologi dan budaya

Diakui secara umum bahwa kebudayaan merupakan unsur penting dalam proses pembangunan atau keberlanjutan suatu bangsa. Lebih-lebih jika bangsa itu sedang membentuk watak dan kepribadiannya yang lebih serasi dengan tantangan zamannya. Dilihat dari segi kebudayaan, pembangunan tidak lain adalah usaha sadar untuk menciptakan kondisi hidup manusia yang lebih baik. Mencip­takan lingkungan hidup yang lebih serasi. Menciptakan kemudahan atau fasilitas agar kehidupan itu lebih nikmat. Pembangunan adalah suatu intervensi manusia terhadap alam lingkungannya, baik lingkungan alam fisik, maupun lingkungan sosial budaya.

Budaya tercipta bukan hanya dari pemikiran manusia, namun juga dari adanya interaksi antara manusia dengan manusia lainnya dan alam sekitar. Dikatakan dalam agama bahwa manusia adalah khalifah atau pengurus di bumi ini. Oleh karena itu manusia diberikan anugrah cipta, rasa dan karsa oleh Sang Pencipta, dimana ini tidak dimiliki oleh makhluk yang lain. Disinilah juga terjadi dialektika, dimana manusia adalah pemakai budaya yang diciptakannya sendiri. Manusia juga hidup diantara budaya yang diciptakannya. Oleh karena itu kebudayaan akan terus ada selama manusia masih ada di muka bumi. Sosial budaya selalu berkaitan satu sama lain, perubahan budaya dapat terjadi jika ada perubahan sosial di masyarakat, begitu pula sebaliknya.

Hakekat manusia yang satu atau universal, akan tetapi yang beraneka ragam perwujudannya dalam kebudayaan masing-masing jaman dan tempat. Nampak dengan jelas bahwa manusia menempati posisi sentral dalam pengkajian. Manusia tidak hanya sebagai obyek pengkajian. Bagaimana hubungan manusia dengan alam, dengan sesama, dirinya sendiri, nilai-nilai manusia dan bagaimana pula hubungan dengan sang pencipta menjadi tema sentral dalam sosial dan budaya.

Ideologi  dapat berarti suatu faham atau ajaran yang mempunyai nilai kebenaran atau dianggap benar sebagai hasil kontemplasi (perenungan) manusia baik berdasarkan wahyu maupun hasil kontemplasi akal budi secara murni. Ideologi ini biasanya merupakan hasil kerja para filosof atau orang yang mau dan mampu menggunakan akalnya untuk memikirkan tentang diri dan lingkungannya atau segala yang ada. Contoh : Ideologi sosialis-komunis dan liberalis-kapitalis di dunia Eropa Timur dan dunia Barat, dan faham Jabariah dan Qadariah di dunia Islam adalah contoh dalam hal ini.

Ideologi ini dapat melahirkan suatu kebudayaan, di samping ide­ologi itu sendiri merupakan kebudayaan, karena kebudayaan adalah hasil dunia, rasa dan karsa manusia dalam arti yang seluas-luasnya. Dengan demikian, ideologi itu mesti kebudayaan tetapi kebudayaan belum tentu menjadi ideologi.

3.2  Akulturasi Islam dan Budaya di Indonesia

   Ajaran Islam telah mendorong umatnya untuk mengerahkan segala daya dan upaya bagi kebaikan dan kesejahteraan umat manusia, termasuk dalam pengembangan kebudayaan. Upaya-upaya tersebut kemudian telah menghasilkan suatu prestasi peradaban baru yang tinggi yang dikenal dengan “peradaban Islam” yang dalam sejarahnya telah memberikan andil yang cukup besar bagi kemajuan peradaban dunia. Ayat-ayat Alquran memang banyak memberikan dorongan kepada umat manusia bagi pengembangan kebudayaan.

Sifat akomodatif Islam terhadap budaya tidak berarti bahwa Islam menerima begitu saja segala wujud kebudayaan yang ada. Karena jika demikian Islam seolah-olah dipahami tidak memiliki nilai-nilai dasar bagi pengembangan kebudayaan.Sejak awal perkembangannya, Islam di Indonesia telah menerima akomodasi budaya. Karena Islam sebagai agama memang banyak memberikan norma-norma aturan tentang kehidupan dibandingkan dengan agama-agama lain. Bila dilihat kaitan Islam dengan budaya, paling tidak ada dua hal yang perlu diperjelas: Islam sebagai konsespsi sosial budaya, dan Islam sebagai realitas budaya. Islam sebagai konsepsi sosial budaya ini oleh para ahli sering disebut dengan great tradition (tradisi besar), sedangkan Islam sebagai realitas budaya disebut dengan little tradition (tradisi kecil) atau local tradition (tradisi local) atau juga Islamicate, bidang-bidang yang “Islamik”, yang dipengaruhi Islam.

Tradisi besar (Islam) adalah doktrin-doktrin original Islam yang permanen, atau setidak-tidaknya merupakan interpretasi yang melekat ketat pada ajaran dasar. Dalam ruang yang lebih kecil doktrin ini tercakup dalam konsepsi keimanan dan syariah-hukum Islam yang menjadi inspirasi pola pikir dan pola bertindak umat Islam. Tradisi-tradisi ini seringkali juga disebut dengan center (pusat) yang dikontraskan dengan peri-feri (pinggiran).

Tradisi kecil (tradisi local, Islamicate) adalah realm of influence- kawasan-kawasan yang berada di bawah pengaruh Islam (great tradition). Tradisi local ini mencakup unsur-unsur yang terkandung di dalam pengertian budaya yang meliputi konsep atau norma, aktivitas serta tindakan manusia, dan berupa karya-karya yang dihasilkan masyarakat.

Dalam istilah lain proses akulturasi antara Islam dan Budaya local ini kemudian melahirkan apa yang dikenal dengan local genius, yaitu kemampuan menyerap sambil mengadakan seleksi dan pengolahan aktif terhadap pengaruh kebudayaan asing, sehingga dapat dicapai suatu ciptaan baru yang unik, yang tidak terdapat di wilayah bangsa yang membawa pengaruh budayanya. Pada sisi lain local genius memiliki karakteristik antara lain: mampu bertahan terhadap budaya luar; mempunyai kemampuan mengakomodasi unsur-unsur budaya luar; mempunyai kemampuan mengintegrasi unsur budaya luar ke dalam budaya asliu; dan memilkiki kemampuanmengendalikan dan memberikan arah pada perkembangan budaya selanjutnya.

Sebagai suatu norma, aturan, maupun segenap aktivitas masyarakat Indonesia, ajaran Islam telah menjadi pola anutan masyarakat. Dalam konteks inilah Islam sebagai agama sekaligus telah menjadi budaya masyarakat Indonesia. Di sisi lain budaya-budaya local yang ada di masyarakat, tidak otomatis hilang dengan kehadiran Islam. Budaya-budaya local ini sebagian terus dikembangkan dengan mendapat warna-warna Islam. Perkembangan ini kemudian melahirkan “akulturasi budaya”, antara budaya local dan Islam.

Budaya-budaya local yang kemudian berakulturasi dengan Islam antara lain acara slametan (3,7,40,100, dan 1000 hari) di kalangan suku Jawa. Tingkeban (nujuh Hari). Dalam bidang seni, juga dijumpai proses akulturasi seperti dalam kesenian wayang di Jawa. Proses Islamisasi tidak menghapuskan kesenian ini, melainkan justru memperkayanya, yaitu memberikan warna nilai-nilai Islam di dalamnya.tidak hanya dalam bidang seni, tetapi juga di dalam bidang-bidang lain di dalam masyarakat Jawa. Dengan kata lain kedatangan Islam di nusantara dalam taraf-taraf tertentu memberikan andil yang cukup besar dalam pengembangan budaya.

Pada sisi lain, secara fisik akulturasi budaya yang bersifat material dapat dilihat misalnya : bentuk masjid Agung Banten yang beratap tumpang, berbatu tebal, bertiang saka, dan sebagainya benar-benar menunjukkan ciri-ciri arsitektur local. Sementara esensi Islam terletak pada “ruh” fungsi masjidnya. Demikian juga dua jenis pintu gerbang bentar dan paduraksa sebagai ambang masuk masjid di Keraton Kaibon. Namun sebaliknya, “wajah asing” pun tampak sangat jelas di kompleks Masjid Agung Banten, yakni melalui pendirian bangunan Tiamah dikaitkan dengan arsitektur buronan Portugis, Lucazs Cardeel, dan pendirian menara berbentuk mercu suar dihubungkan dengan nama seorang Cina: Cek-ban Cut.

Aspek akulturasi budaya local dengan Islam juga dapat dilihat dalam budaya Sunda adalah dalam bidang seni vokal yang disebut seni beluk. Dalam seni beluk sering dibacakan jenis cirita (wawacan) tentang ketauladanan dan sikap keagamaan yang tinggi dari si tokoh.

Akulturasi Islam dengan budaya-budaya local nusantara sebagaimana yang terjadi di Jawa didapati juga di daerah-daearah lain di luar Jawa, seperti Sumatera Barat, Aceh, Makasar, Kalimantan, Sumatera Utara, dan daerah-daerah lainnya.

3.3   Pengaruh timbal balik antara agama dan budaya

1.  Agama mempengaruhi kebudayaan, kelompok / masyarakat / suku / bangsa.

2.  Kebudayaan cenderung mengubah-ubah keaslian agama sehingga menghasilkan     penafsiran berlainan.

Hal pokok bagi semua agama adalah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk-bentuk budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat, adat istiadat dan lain-lain. Jadi ada pluraisme budaya berdasarkan kriteria agama. Hal ini terjadi karena manusia sebagai homoreligiosus merupakan insan yang berbudidaya dan dapat berkreasi dalam kebebasan menciptakan berbagai objek realitas dan tata nilai baru berdasarkan inspirasi aaagama.

Dengan demikian, agama dan budaya harus dapat menjadi instrumen bagi pengembangan kebudayaan dan budaya seharusnya dapat berjalan seiring dalam rangka memperkuat kerukunan antar umat beragama

 

3.4  Pandangan Ajaran Islam Tentang Ilmu Sosial

Jika diadakan perbandingan antara perhatian islam terhadap urusan ibadah dengan urusan muamalah, ternyata islam menekankan urusan muamalah lebih besar daripada urusan ibadah dalam arti yang khusus . keterkaitan agama dengan masalah kemanusiaan menjadi penting jika dikaitkan dengan situasi kemanusiaan di zaman modern ini. Dewasa ini manusia menghadapi berbagai macam persoalan yang membutuhkan pemecahan segera. Manusia merasa bahwa situasi yang penuh dengan problematika di dunia modern justru disebabkan oleh perkembangan pemikiran manusia sendiri.

Manusia telah berhasil mengorganisasikan ekonomi, menata struktur politik, serta membangun peradaban yang maju untuk dirinya sendiri, tetapi pada saat yang sama, kita juga melihat bahwa umat manusia telah menjadi tawanan dari hasil ciptaannya sendiri. Dalam keadaan demikian, kita harus memiliki ilmu pengetahuan sosial yang mampu membebaskan manusia dari problema tersebut. Ilmu pengetahuan sosial yang dimaksud adalah ilmu pengetahuan yang digali dari nilai-nilai agama. Kuntowijoyo menyebutkan sebagai ilmu sosial profetik.

3.5  Ilmu Sosial Yang Bernuansa Islam

Ilmu sosial mengalami kemandekan dalam memecahkan masalah yang dihadapinya, dibutuhkn ilmu sosial yng tidak berhenti pada menjelaskan fenomena sosial, tetapi dapat memecahkan secara memuaskan. Menurut Kuntowijoyo kita butuh ilmu sosial Profetik: yaitu ilmu sosial yang tidak hanya menjelaskan dan mengubah fenomena sosial tetapi juga memberi petunjuk kearah mana tranformasi itu dilakukan, yaitu ilmu sosial yang mampu mengubah fenomena berdasarkan cita-cita etik dan profetik tertentu. Yaitu yang berdasarkan tiga hal : cita-cita manusia, libersi, dan ketiga transendensi.

Tujuan pertama ialah memanusiakan manusia; seperti Industrialisasi yang kini terjadi kadang menjadikan manusia sebagian dari masyarakat abstrak tanpa wilayah kemanusiaan. Kita menjalani obyektifasi ketika berada di tengah-tengah mesin politik dan mesin pasar, manusia telah menjadi bagian dari sekrup mesin yang tidak lagi menyadari keberadaanya secara utuh.Kedua liberasi bertujuan pembebasan manusia dari kungkungan teknologi, dan memeras kehidupan orang miskin yang tergusur oleh kekuatan ekonomi raksasa dan berusaha membebaskan manusia dari belenggu yang kita buat sendiri. Ketiga tujuan transendensi adalah menumbuhkan dimensi transendental dalam kebudayaan. Dan yang harus kita lakukan membersihkan diri dengan meningkatkan kehidupan pada dimensi transendentalnya.

Dengan ilmu sosial Profetik kita di haruskan mempunyai pandangan bahwa sumber ilmu bukan hanya berasal dari rasio dan empiri sebagaimana yang dianut dalam masyarakat barat, tetapi juga dari wahyu. Dengan ilmu sosial yang demikian maka umat islam akan dapat meluruskan gerak langkah perkembangan ilmu pengetahun yang terjadi saat ini dan juga meredam berbagai kerusuhan sosial dan tindakan kriminal. Fenomena kerusuhan tindakan kriminal, bencana kebakaran hutan, penyimpangan sosial, dan masalah sosial lainnya bukan masalah yang berdiri sendiri, semua itu merupakn produk sistem dan pola pikir. Pemecahan terhadp masalah tersebut salah satu alternatif adalah dengan memberikn nuansa keagamaan pada ilmu sosial.

 

3.6  Peranan Ilmu Sosial Profetik Pada Era Globalisasi

Islam selalu membuka diri terhadap seluruh warisan kebudayan sejak beberapa abad yang lalu islam mewarisi peradaban manusia. Dalam bidang IPTEK Islam bukanlah agama yang tertutup. Islam adalah paradigma terbuka sebagai mata rantai peradaban dunia. Islam mewarisi peradapan yunani dari barat dan peradaban persia, india, dan cina dari timur. Ketika abad VIII – XV peradaban barat dan timur tenggelam dan mengalami kemerosotan. Islam bertindak sebagai pewaris utama kemudian diambil alih oleh barat sekarang. Islam mengembangkan matematika India, ilmu kedokteran dari Cina, sistem pertahanan Sasanid dan logika Yunani dsb. Namun dalam proses penerimaannya itu terdapat dialektika internal. Mislnya untuk bidang pengkajian tertentu Islam menolak bagian logika Yunani yang sangat rasional, diganti dengan cara berfikir yang menekankan rasa seperti yang dikenal dalam Tasawuf.

Al-Qur’an sebagai sumber utama ajaran islam diturunkan bukan dalam ruang hampa, melainkan dalam setting sosial aktual, respon normatifnya merefleksikan kondisi sosial aktual itu. Meskipun jelas bahwa al-Qur’an memiliki cita-cita sosial tertentu. Bukti sejarah memperlihatkan dengan jelas bahwa sejak kelahirannya lima belas abad yang lalu Islam telah tampil sebagai agama terbuka akomodatif. Serta berdampingan dengan agama, kebudayaan, dan peradaban lainnya. Tetapi dalam waktu bersamaan Islam juga tampil memberikan kritik, perbaikan, bahkan penolakan dengan cara-cara yang amat simpatik dan tidak menimbulkan gejolak sosial yang membawa korban yang tidak diharapkan. Dengan sifat karakteristik ajaran islam demikian itu maka melalui ilmu sosial yang berwawasan profetik Islam siap memasuki era globalisasi yang di tandai dengan adanya perubahan bidang ekonomi, teknologi, sosial, informasi, dsb. Akan dapat diambil dengan sebaik-baiknya.

Islam mempunyai perhatian dan kepedulian yang tinggi terhadap masalah sosial. Untuk itu maka kehadiran ilmu sosial yang hanya membicarakn tentang manusia tersebut dapat diakui oleh Islam. Namun islam mempunyai pandangan yang khas tentang ilmu sosial yang dikembangkan yaitu ilmu sosial profetik yang dibangun dari ajaran islam dan diarahkan untuk humanisasi, liberasi, dan transendensi seperti yang disebutkan sebelumnya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

PENUTUP

 

4.1  Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas dapat saya simpulkan bahwa:

  1. Agama adalah suatu ciri kehidupan sosial manusia yang universal dalam arti bahwa semua masyarakat mempunyai cara-cara berpikir dan pola-pola perilaku yang memenuhi syarat untuk disebut “agama” (religious).
  2. Pengertian kebudayaan merupakan gambaran totalitas manusia dalam semua lini kehidupan masyarakat yang merupakan hasil cipta, rasa dan karsa manusia.
  3. Hubungan agama dan kebudayaan ialah bahwa agama berfungsi sebagai alat pengatur dan sekaligus membudayakannya dalam arti mengungkapkan apa yang ia percaya dalam bentuk-bentuk budaya yaitu dalam bentuk etis, seni bangunan, struktur masyarakat, adat istiadat dan lain-lain.
  4. Pengaruh timbal balik antara agama dan budaya:
  5. Agama mempengaruhi kebudayaan, kelompok / masyarakat / suku / bangsa.
  6. Kebudayaan cenderung mengubah-ubah keaslian agama sehingga menghasilkan penafsiran berlainan.

4.2 Saran

Hubungan kebudayaan dan agama tidak saling merusak, keduanya justru saling mendukung dan menguntungkan. Agama dan kebudayaan sebenarnya tidak pernah bertentangan, karena kebudayaan bukanlah sesuatu yang mati, tapi berkembang terus
mengikuti perkembangan zaman. Demikian pula agama, selalu bisa berkembang
di berbagai kebudayaan dan peradaban dunia. Bagaimana cara kita bersosialisasi dengan sesama manusia, dapat dijadikan sebuah tolak ukur dalam menciptakan suatu kebudayaan baru yang masih tetap sejalan dengan norma dan nilai-nilai Islam.

Semoga dengan ini, kita dapat mengambil pelajaran dengan cara memfilter setiap kebudayaan yang asing dengan berpedoman kepada aturan agama. Agar nantinya, tercipta kebudayaan yang bersifat positif dan tidak merusak kebudayaan serta nilai-nilai kemanusiaan yang ada. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

http://www.google.com/  (di akses pada hari Selasa, 08 Januari 2013 pukul 14.25 WIB)

http://wisnu.dosen.isi-ska.ac.id/2012/11/06/akulturasi-budaya-masa-islam-di-indonesia/ (di akses pada hari Selasa, 08 Januari 2013 pukul 14.30 WIB)

http://citratyas.wordpress.com/2012/01/08/ilmu-sosial-budaya-dasar-isbd/ (di akses pada hari Selasa, 08 Januari 2013 pukul 15.05 WIB)

http://ukpkstain.multiply.com/journal/item/50?&show_interstitial=1&u=%2Fjournal%2Fitem (di akses pada hari Selasa, 08 Januari 2013 pukul 15.45 WIB)

http://sinforan.blogspot.com/2012/02/hubungan-agama-dengan-ilmu-pengetahuan.html (di akses pada hari Selasa, 08 Januari 2013 pukul 15.49 WIB)

http://beries-boy.blogspot.com/2012/04/hubungan-agama-dan-kebudayaan.html (di akses pada hari Selasa, 08 Januari 2013 pukul 16.12 WIB)

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s